Tampilkan postingan dengan label highlights. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label highlights. Tampilkan semua postingan
Minggu, 09 Oktober 2016

WOW - Camp Leakey : Kisah Sebuah Rumah bagi Orangutan yang Terancam Punah | WajibUntukPecintaAlam (2016)


Apabila Anda ingin menjadi saksi kehidupan orangutan yang terancam punah di habitat asli mereka maka Kalimantan tentu akan muncul di kepala Anda. Ya, Kalimantan atau Borneo kabarnya merupakan habitat bagi tiga perempat jumlah total orangutan di dunia; jumlah yang besar jika tidak mengingat bahwa ¾ itu pun terancam punah karena populasinya kian berkurang.


Adalah Camp Leakey, sebuah pusat penelitian yang kemudian memperlengkapi fungsinya menjadi pusat rehabilitasi orangutan sekaligus penyelamatannya. Lokasi camp ini tepat di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Camp Leakey sudah berdiri sejak 1971 dan hingga kini masih bertahan. Dapat dikatakan Camp Leakey adalah rumah rehabilitasi (bagi primata) yang paling lama di kawasan tersebut.

Sejak berdiri 41 tahun yang lalu, keberadaan Camp Leakey telah memberikan kontribusi besar bagi keberadaan dan kelangsungan hidup orangutan khususnya dan dunia ilmu pengetahuan umumnya. Hingga kini Camp Leakey masih merupakan pusat penelitian yang aktif mendukung usaha penelitian belasan ilmuwan dan mahasiswa baik dari Indonesia maupun Amerika Utara. Keragaman dan kekayaaan hutan tropis Kalimantan telah mengundang berbagai ilmuwan untuk menelitinya. Proyek penelitian pun beragam, mulai dari mempelajari ekologi dan prilaku orangutan, monyet, ekologi sungai, dan lainnya.

Keberadaan Camp Leakey juga telah membuat dunia internasional mengenal primata yang satu ini. Menyadarkan betapa terancamnya hidup mereka sehingga manusia di belahan dunia manapun perlu turut menjaga dan melestarikannya. Pembalakan liar, kebakaran, dan alih fungsi hutan sebagai kawasan perkebunan komersil (misalnya sawit) jelas-jelas mengancam habitat alami orangutan. Belum lagi perburuan orangutan untuk dijual sebagai hewan peliharaan adalah tantangan yang lain lagi.


Untuk itulah peran Camp Leakey terasa sangat berarti. Sebab, camp ini menjadi semacam rumah bagi orangutan liar dan orangutan yang pernah ditangkap. Di sini hewan tersebut mendapat tempat rehabilitasi sebelum dilepas ke hutan liar.

Pelepasan orangutan pun tidak di sembarang hutan. Mereka dilepaskan masih di kawasan Taman Nasional Tanjung Putingdan di Suaka Margasatwa Sungai Lamandau, juga di beberapa kawasan lainnya. Kawasan-kawasan hutan tersebut termasuk hutan yang dilindungi pemerintah dan karenanya dijaga dari aksi-aksi pemanfaatan hutan yang berlebihan serta tidak bertanggung jawab, seperti perburuan satwa, pembalakan liar, dan lainnya. Status hutan lindung ini diharapkan menjadi tempat yang aman bagi orangutan dimana sekaligus merupakan paru-paru Bumi.

Masyarakat atau wisatawan berkesempatan mengunjungi kawasan Camp Leakey dan melihat dari dekat kehidupan orangutan dengan didampingi oleh guide lokal. Untuk masuk ke kawasan ini, pengunjung harus mendapatkan izin terlebih dahulu dari polisi hutan (check-in). Wisatawan atau pengunjung dapat melihat orangutan pada jarak yang aman dan hendaknya tidak mengganggu ilmuwan yang sedang beraktivitas di kamp tersebut.


Daya tarik utama dari Camp Leakey adalah tempat memberi makan orangutan (feeding platform). Di tempat tersebut, makanan disediakan oleh para staf dan ditaruh di atas balai-balai bambu bagi orangutan liar dan orangutan yang pernah ditangkap. Hal itu membuat orangutan tidak kekurangan makanan saat musim sedang tidak bersahabat atau tidak menyediakan cukup makanan.

Selain tempat tersebut di atas, Anda dapat juga mengunjungi sebuah bangunan yang mendokumentasikan upaya dan langkah-langkah yang telah dilakukan oleh Dr. Biruté Mary Galdikas selama lebih dari 40 tahun. Dr. Biruté Mary Galdikas adalah presiden bagi Orangutan Foundation International (OFI), sebuah yayasan yang ia gagas bersama koleganya untuk menunjang kegiatan dan keberadaaan Camp Leakey.

Dr. Biruté Mary Galdikas adalah seorang ilmuwan dari California yang memiliki ketertarikan besar dalam meneliti kehidupan orangutan. Tahun 1966, setelah ia mendapatkan gelar masternya di bidang antropologi di University of California at Los Angeles (UCLA), Dr. Galdikas menemuai Dr. Louis Leakey dan menyampaikan ketertarikannya tersebut. Leakey adalah juga mentor bagi Jane Goodall and Dian Fossey, para ilmuwan yang terkenal karena meneliti simpanse dan gorila gunung. Pada awalnya, Dr. Leakey tidak tertarik membantu Dr. Galdikas namun berkat keseriusan Dr. Galdikas dalam meyakinkan Dr. Leakey atas niatnya, tiga tahun kemudian mereka berhasil mendapatkan dana bagi penelitiannya. Nama kamp atau pusat penelitian tersebut pun diambil dari nama belakang sang mentor yang merupakan paleo-anthropologist legendaris, yaitu Leakey.

Tepatnya tahun 1971, Dr. Galdikas bersama dengan Rod Brindamour menempuh perjalanan ribuan kilometer menuju hutan rimba Kalimantan untuk memulai penelitian di Tanjung Puting, khususnya mendokumentasikan prilaku dan ekologi orangutan. Proses dan hasil penelitian tersebut telah menggerakkannya untuk melakukan usaha pelestarian orangutan dari ancaman kepunahan. Camp Leakey pun didirikan; dulu hanya berupa dua gubuk di tengah hutan yang minim fasilitas. Tidak ada telepon, jalan yang memadai, listrik, dan lain sebagainya saat itu. Akan tetapi kini, Camp Leakey adalah sebuah bangunan permanen yang terbuat dari kayu dan merupakan tempat yang didesain sebagai pusat para peneliti, staf, mahasiswa, dan polisi hutan (jagawana).
Dr. Galdikas adalah orang yang paling berpengaruh di dunia dalam hal pelestarian orangutan. Atas kepeduliannya tersebut, ia telah mendapatkan sejumlah penghargaan baik nasional dan internasional. Dari pemerintah Indonesia, ia mendapatkan Kalpataru, sebuah penghargaan tertinggi bagi pahlawan lingkungan dan alam Indonesia. Selain itu, ia juga mendapat penghargaan Tyler Prize for Environmental Achievement, Gold Medal for Conservation, Chester Zoological Society (UK), PETA Humanitarian Award, United Nations Global 500 Award, dan sejumlah penghargaan penting lainnya.
Anda dapat menghubungi agen wisata berikut ini guna mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai tur di Camp Leakey, termasuk info penerbangan, biaya, dan trip arrangement.

Adventure Indonesia - BorneoMr. Yatno
Jl. H.M. Idris, RT 06 no. 477
Kumai Hulu, Pangkalanbun, Kalimantan Tengah
sumber : http://pesonaindonesia.travel/D/ATT/20160830004132/0/0.html
Sabtu, 08 Oktober 2016

WOW - Malam Tumbilotohe : Menikmati Gorontalo Yang Ramai Berhiasakan Cahaya | SedangHangat (2016)

Menjelang berakhirnya bulan suci Ramadhan, warga Gorontalo serempak memasang lampu minyak berderet di sepanjang jalan, di halaman dan teras rumah, di masjid, di kantor, hingga di pepohonan dan lapangan bola, bahkan juga di pesawahan. Suasana malam hingga Subuhnya begitu menakjubkan, meriah penuh warna. Inilah tradisi yang telah berjalan sejak abad XV dan cukup menjadi salah satu alasan mengapa Anda perlu mengunjungi Gorontalo.


Malam Tumbilotohe digelar 3 hari sebelum Hari Raya Idul Fitri, lampu-lampu akan menyala mengiasi Gorontalo dimulai saat Maghrib hingga menjelang Subuhnya. Saat itu Anda akan melihat setiap keluarga memasang lampu minyak di depan rumahnya, bahkan mendirikan gapura berhiaskan beraneka bunga. Biasanya jumlah lampu minyak yang dipasang bervariasi sesuai jumlah anggota keluarganya.

Tradisi Malam Tumbilotohe telah menarik perhatian wisatawan termasuk juga warga kota tetangganya seperti Manado, Palu, danMakassar. Mereka jauh-jauh sengaja berkunjung ke Gorontalo untuk menyaksikan tradisi Tumbilotohe yang menakjubkan. Bukan hanya itu, saat Malam Tumbilotohe Anda juga akan dapat merasakan nuansa religius dan solidaritas masyarakat Gorontalo yang tulus.


Tumbilotohe berasal dari bahasa Gorontalo, yaitu tumbilo berarti pasang, dan tohe berarti lampu. Tumbilotohe diartikan sebagai acara pasang lampu. Tradisi ini sudah berlangsung sejak abad XV. Saat itu tradisi ini dilaksanakan setiap 3 malam terakhir menjelang hari Raya Idul Fitri, yaitu tanggal 27 hingga 30 Ramadhan, mulai Magrib hingga Subuh. Awalnya pelaksanaan Tumbilotohe dimaksudkan untuk memudahkan warga yang ingin memberikan zakat fitrah di malam hari. Selain itu tradisi ini juga dilakukan sebagai peringatan bahwa saat menyambut Idul Fitri maka hati dan jiwa harus bersih serta terang benderang seperti makna pemasangan lampu tersebut.

Awalnya lampu penerangan menggunakanwango-wango yaitu terbuat dari wamuta yang dihaluskan, diruncingkan, kemudian dibakar. Berikutnya alat penerangan berganti dengan tohetutu yaitu damar dari semacam getah padat yang akan menyala cukup lama ketika dibakar. Sesuai perkembangan lampu penerangan berikutnya menggunakan sumbu dari kapas berbahan bakar minyak kelapa (padamala) yang diwadahi kima sejenis kerang dan pepaya yang dipotong dua. Saat ini penerangan tersebut umumnya menggunakan lampu dengan bahan bakar minyak tanah.

Saat perayaan Malam Tumbilotohe, masyarakat Gorontalo menyalakan lampu secara sukarela. Lampu-lampu penerangan dari berbagai jenis dan bentuk tidak hanya menerangi halaman rumah warga tetapi juga menerangi halaman kantor, masjid, dan lapangan sepak bola. Tanah lapang yang luas dan persawahan juga dihiasi berbagai formasi dari lampu dan lentera yang membentuk gambar masjid, kitab suci Alquran, dan kaligrafi yang sangat memesona saat dipandang.

Gemerlap lentera tradisi Tumbilotohe yang digantung pada kerangka-kerangka kayu dihiasi janur kuning yang terbuat dari daun kelapa muda (alikusu). Di atas kerangka itu juga digantung buah pisang sebagai lambang kesejahteraan dan tebu sebagai lambang kemanisan, keramahan, serta kemuliaan menyambut Hari Raya Idul Fitri.

Tahun 2007, Malam Tumbilotohe masuk Museum Rekor Indonesia (MURI) karena berhasil menyalakan 5 juta lampu.

 Perayaan Malam Tumbilotohe memberi makna sebagai penerangan bagi umat Muslim yang ingin beribadah ke masjid dan beribadah untuk mendapatkan malam Lailatul Qadr. Saat malam Lailatul Qadar, orang-orang berbondong-bondong ke masjid untuk mendengarkan ceramah demi mendapatkan pencerahan yang diidentikan dengan lampu-lampu yang dipasangi untuk penerangan. Pemasangan lampu itu mengingatkan bahwa kitab suci Alquran membawa jalan terang bagi umat manusia agar kembali hidup dalam kebenaran sekaligus menerangi orang-orang yang berada di sekitarnya.

Perayaan Malam Tumbilotohe menjadi semakin semarak saat ini karena ada atraksi bunggo yaitu meriam yang terbuat dari bambu yang dimainkan anak-anak muda Gorontalo. Pemuda pemain bunggo akan saling balas beradu kerasnya bunyi bunggo. Kegiatan tersebut akan semakin semarak saat menjelang sahur sekaligus membangunkan warga untuk makan sahur.

sumber : http://pesonaindonesia.travel/D/ATT/20160827174629/0/0.html